ToR PANEL
Kongres Nasional Kegiatan Perfilman Berbasis Komunitas
17-20 Maret 2010
Taman Budaya Surakarta, Solo – Jawa Tengah

Kelas Diskusi Produksi Film Berbasis Komunitas

Kelas-kelas diskusi -semi workshop dengan tema-tema spesifik yang dipimpin oleh pembicara atau pemberi materi. Bertujuan utama untuk melakukan penyebaran pengetahuan, pemetaan persoalan, dan standarisasi pengetahuan diantara para pembuat film berbasis komunitas. Fokus utama pembahasan:

  • Alat produksi dan paska produksi –pemetaan infrastruktur dan kebutuhan
  • Standarisasi pengetahuan pembuatan film
  • Pemetaan tujuan pembuatan film non-komersial

Kelas Pembuatan Film

Umum
Sebagian besar kelompok atau komunitas film yang tersebar di kota-kota besar dan kecil di wilayah Indonesia, berbasis pembuat film atau melakukan kerja-kerja produksi film. Setelah itu, kemana film-film yang mereka buat?

Nah, pertanyaan ini sangat penting bagi para pembuat film. Karna bila pembuat film belum mampu menjawab pertanyaan ini, mustahil mereka akan dengan rutin memproduksi film. Mau tidak mau komunitas film yang berbasis produksi film akan melakukan kerja-kerja eksebisi/pemutaran film, melakukan pendataan karya-karya film, dan belajar membuat jaringan di luar kotanya masing-masing.

Namun di sini, kita akan membahas soal bagaimana proses kelompok atau komunitas film tersebut dalam memproduksi sebuah karya film/video. Ada tiga hal yang dibahas yaitu soal alat, pengetahuan, dan tujuan.

Tujuan dari kelas ini adalah untuk memetakan persoalan pembuatan film (pra-produksi-paska) dalam wilayah kerja komunitas film atau kelompok mandiri lainnya. Di kelas ini diharapkan akan terbahas pendataan-pendataan yang berguna dalam berbagai aspek pembuatan film. Pendataan tersebut bisa merupakan data penyewaan alat produksi, kelompok/individu, dst.

Panel: Pemetaan Alat Produksi

Diakui dengan masuknya teknologi digital, alat-alat untuk memproduksi film bisa dianggap relatif murah. Bukan tidak mungkin satu komunitas film di satu kota atau bahkan individu mempunyai seperangkat alat lengkap atau setidaknya cukup untuk memproduksi sebuah karya film.

Meskipun ada pula komunitas yang belum lengkap atau sama sekali belum mempunyai peralatan. Nah di kelas inilah akan dibahas untuk mengetahui bagaimana kondisi alat produksi film dari masing-masing komunitas film.

Pertanyaan:

  • Seperti apa alat yang digunakan? Dari yang sederhana sampai yang paling canggih.
  • Dari mana alat tersebut diperoleh?
  • Apakah ada ukuran ideal terkait alat produksi? Bila ada seperti apa?
  • Bagaimana kendala dan cara mengatasinya?

Panel: Standarisasi  Pengetahuan Produksi Film

Kondisi mendasar/basis komunitas film dari masing-masing kota sangatlah beragam. Tidak sedikit komunitas film kota-kota di Indonesia berbasis bisnis video manten yang berbentuk industri rumahan. Ada pula di atasnya, yaitu berbentuk production house tingkat lokal artinya berlegal formal dan biasanya berbentuk CV.

Mereka dengan otodidak maupun pengetahuan dari luar, karena demi pemenuhan kebutuhan ekonomi, berani mendirikan usaha tersebut. Nah, kerja-kerja kreatif berupa memproduksi karya film adalah sisi lain (kerja-kerja idealis) yang kemudian ditopang dana dan pengetahuan dari basis kerja mereka.

Kebalikan dari kelompok di atas adalah kelompok atau komunitas film yang memang lebih banyak melakukan kerja-kerja kreatif (baca: idealis), yaitu memproduksi karya film/video. Artinya pada awalnya, mereka banyak belajar membuat karya film/video. Bila kemudian dalam berkarya menjadi pekerjaan dan menghasilkan uang, itu bagian dari proses kreatif.

Kelompok atau komunitas ini biasanya digawangi kaum muda terpelajar atau berbasis kampusan. Mereka memperoleh pengetahuan dari luar karena mempunyai jaringan di banyak kota.

Fenomena lain, sudah hampir seluruh SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) mempunyai jurusan broadcast. Seperti apa pengetahuan yang diajarkan? Dan bagaimana kondisi para pengajarnya? Belum banyak diketahui. Soal peralatan, sudah banyak SMK mempunyai fasilitas memadai.

Tidak sedikit pula SMA yang mempunyai ekstrakurikuler sinematografi atau apapun namanya. Pengetahuan biasanya dari pengajar yang berasal dari komunitas film di kota tersebut. Ada pula SMA-SMA yang memproduksi film/video hasil dari workshop komunitas film di kota masing-masing.

Pertanyaan:

  • Seperti apa pengetahuan produksi film (dari mulai pra, produksi, dan paska produksi) dari masing-masing komunitas pembuat film di Indonesia?
  • Dari mana pengetahuan produksi film mereka berasal?
  • Bagaimana proses transformasi pengetahuan dari individu/kelompok yang sudah tahu kepada individu atau kelompok yang belum berpengalaman? Apakah melalui workshop atau bentuk transformasi lain?
  • Apakah ada ukuran ideal soal pengetahuan dalam proses produksi film? Bila ada seperti apa?
  • Apakah perlu kesepakatan soal ukuran ideal tersebut?
  • Bagaimana kendala dan cara mengatasinya?

Panel: Pemetaan Tujuan Produksi Film Non-komersil

Seperti ditulis di bagian atas, bahwa tujuan menjadi sangat penting bagi masing-masing kelompok atau komunitas film dalam memproduksi sebuah karya film. Tanpa tujuan, mustahil komunitas film akan mampu berlanjut.

Tujuan ini pada akhirnya bisa menjadi suatu kebutuhan. Bila sudah pada tahap ini, tantangan dan kendala akan dihadapi dan bagaimana masing-masing komunitas film dalam mengatasinya?

Pertanyaan:

  • Apa atau apa saja tujuan dari masing-masing komunitas film dalam membuat film?
  • Perlukah kesepakan bersama untuk membuat suatu tujuan? Bila perlu, apa saja tujuan yang perlu disepakati?
  • Seperti apa masing-masing komunitas film dalam memperlakukan karyanya?
  • Kemana film-film mereka didistribusikan?

Kelas Diskusi Kegiatan Perfilman

Kelas-kelas diskusi -semi workshop dengan tema-tema spesifik yang dipimpin oleh pembicara atau pemberi materi. Bertujuan utama untuk melakukan penyebaran pengetahuan, pemetaan persoalan, dan standarisasi pengetahuan diantara penggiat kegiatan perfilman berbasis komunitas. Fokus utama pembahasan:

  • Manajemen dan standarisasi pemutaran film non-komersial
  • Tentang festival & kompetisi film
  • Standarisasi pelaksanaan workshop film beserta kebutuhannya
  • Pendidikan film formal & informal
  • Pengembangan organisasi & pendanaan mandiri
  • Pengembangan jaringan inklusif dan hubungan dengan Pemerintah/Pemda


Panel: Mengelola program pemutaran film

Program pemutaran film adalah salah satu kegiatan yang sering dilakukan oleh komunitas/kelompok film, sebagai bagian dari program kerja lainnya. Namun seringkali ditemukan persoalan-persoalan dalam menjalankan program tersebut, seperti; kekontekstualitasan pemutaran dengan basis penonton yang ada, kesinambungan program yang terkait dengan pengumpulan materi serta jaringan (untuk mengumpulkan materi film), hingga persoalan teknis pengelolaan pemutaran film.

Gagasan utama pembahasan:

  • Evaluasi sejauh mana program pemutaran film yang dilakukan oleh komunitas/kelompok film berjalan selama ini, serta persoalan yang dihadapi.
  • Melihat kembali kebutuhan program pemutaran film berdasarkan konteks masing-masing basis kegiatan.

Target utama pembahasan:

  1. Terbentuknya “aturan main” yang jelas mengenai pemutaran film (perijinan, klasifikasi penonton, dst.) yang dapat menjadi kesepakatan bersama.
  2. Membuat kertas kerja program pemutaran film yang komprehensif dengan mengacu pada konteks kebutuhan di masing-masing basis kegiatan.


Panel: Kesinambungan festival film & kompetisi

Dalam kurun 2 tahun terakhir, semakin banyak muncul festival film & kompetisi yang diselenggarakan di banyak kota di Indonesia, baik yang berbasis kampus maupun non kampus. Festival & kompetisi tersebut merupakan salah satu indikator serta parameter kita mengukur perjalanan kegiatan produksi film di Indonesia dalam berbagai skala.

Namun festival & kompetisi seringkali hadir dengan kerancuan; bahwasannya festival tidak harus melibatkan kompetisi didalamnya, dan keduanya memiliki pola pengelolaan yang berkesinambungan. Tiap festival & kompetisi hadir dengan kekhasan serta karakternya masing-masing, yang kemudian kita menyebutnya sebagai identitas festival dan/atau kompetisi tersebut.

Gagasan utama pembahasan:

  • Nilai-nilai seperti apa yang membedakan antara festival dengan kompetisi.
  • Sampai sejauh mana festival & kompetisi yang diselenggarakan selama ini telah menemukan bentuk yang ideal.
  • Apa kebutuhan nyata dari penyelenggaraan festival film & kompetisi.
  • Festival & kompetisi film memiliki kontribusi dalam banyak aspek baik pada konteks lokal, regional, maupun nasional.
  • Bagaimana mempertahankan keberlanjutan penyelenggaraan festival & kompetisi.

Target utama pembahasan:

  1. Terbentuknya pemahaman bersama mengenai festival dan kompetisi, mengacu pada masing-masing konteks serta karakter yang ingin dibentuk.
  2. Terbentuknya jaringan komunikasi antar festival & kompetisi.
  3. Terbentuknya pendataan penyelenggaraan festival dan kompetisi di Indonesia yang berbasis komunitas film.
  4. Terbentuknya rancang-bangun strategi keberlanjutan festival & kompetisi.

Panel: Workshop Film

Workshop film, utamanya dalam konteks produksi sering diadakan oleh komunitas film. Sebagai salah satu proses pembelajaran – informal, workshop kemudian menjadi salahsatu metode penyebaran pengetahuan mengenai produksi film dalam berbagai aspek.

Gagasan utama pembahasan:

  • Sejauh mana workshop – workshop yang telah dilakukan secara efektif menyebarkan pengetahuan film dalam berbagai aspek dengan efektif.
  • Pola workshop yang ideal.
  • Kebutuhan mendasar dalam mengelola sebuah workshop.

Target utama pembahasan:

  1. Mengetahui sejauh mana keefektivitasan sebuah workshop dalam menyebarkan pengetahuan.
  2. Mengetahui tahapan workshop seperti apa yang dibutuhkan untuk mendapatkan pengetahuan dasar produksi film dengan komprehensif.

Panel: Pemberdayaan Organisasi

Komunitas film atau kelompok sejenisnya muncul-tenggelam dalam perputaran waktu yang sangat cepat.  Pengelolaan komunitas agar berjalan dengan kesinambungan yang terjaga jelas menjadi isu yang utama. Soal pembiayaan komunitas dan program kegiatan selalu menjadi persoalan klasik disamping pola pengelolaan organisasi/kelompok yang turut menjadi masalah bagi keberlangsungan sebuah komunitas.

Gagasan utama pembahasan:

  • Adakah satu pola serta strategi pengelolaan organisasi yang dapat menjadi referensi bagi komunitas film dalam mengelola kelompoknya.
  • Strategi semacam apa dalam mengatasi persoalan pendanaan kelompok serta program.
  • Bagaimana menjaga keberlanjutan kelompok serta kerja-kerjanya.

Target utama pembahasan:

  1. Terbentuknya strategi yang dapat dipakai bersama untuk mengatasi persoalan pengelolaan organisasi komunitas film.
  2. Inventarisasi strategi pendanaan mandiri bagi komunitas film.

Panel : “Pemanfaatan dan penyebaran pengetahuan tentang film dalam lingkungan Pendidikan formal berbasis komunitas”

Kegiatan perfilman berbasis komunitas tidak pernah lepas dari keterlibatan pelajar (SMP dan SMA) dan mahasiswa. Banyak dari para aktivis film dan pembuat film saat ini telah aktif di komunitas film sejak masa pelajar dan mahasiswa. Ketika kegiatan komunitas film semakin marak dan antusiasme atas film Indonesia juga meningkat, kegiatan film perlahan-lahan masuk ke dalam institusi sekolah/pendidikan formal. Kegiatan tersebut tidak saja berwujud kelompok-kelompok ekstrakulikuler bahkan sudah banyak SMU yang memasukkan pengajaran tentang film dalam kurikulumnya atau SMK khusus audio-visual (broadcast).

Namun, umumnya unit film dalam kegiatan kesiswaan atau pengajaran film di kelas jarang memiliki hubungan dengan aktivitas komunitas film atau bila ada, hubungan kerjasamanya sangat sporadis. Tentu, penyerapan pengetahuan film dalam kegiatan pendidikan formal bukan saja terletak pada aktivitas pengajaran dan berbagai kegiatan di dalamnya tetapi juga adanya pemanfaatan media film sebagai media pendukung dalam proses ajar mengajar. Selama ini, secara keseluruhan antusiasme pelajar terhadap film lebih banyak dimanfaatkan oleh kelompok korporasi  yang lebih peduli pada pembentukan pasar dan menjaga loyalitas konsumen sehingga segala yang dihasilkan serba instant. Untuk itu, perlu campur tangan komunitas film yang peduli pada semangat independensi, keragaman, lokalitas sekaligus memiliki kecintaan pada semesta film.

Selain ikut mencegah dan menandingi munculnya budaya instant yang dihasilkan oleh korporasi, masuknya film dalam kegiatan pendidikan formal (SMP dan SMA) membuka kemungkinan terjadinya proses regenerasi di komunitas film.

Gagasan utama pembahasan :

  • Mengenalkan dan menyebarkan pengetahuan tentang film (film literacy) kepada pelajar di institusi pendidikan formal.
  • Memperkaya wawasan akan keragaman tema film di kalangan pelajar.
  • Penyebaran pemanfaatan film sebagai media alternatif dalam proses pengajaran, selain untuk menyampaikan gagasan dan ekspresi berbasis konten lokal (pengetahuan, budaya, dan pengalaman).

Target hasil pembahasan:

  1. Tercapainya kesamaan pemahaman tentang pentingnya pengetahuan dan pemanfaatan media film masuk dalam kegiatan lembaga pendidikan formal baik di tingkat menengah (SMP) maupun atas (SMA). Bentuk penyampaian pengetahuan dan pemanfaatan media film tersebut dapat berupa muatan dalam kurikulum maupun kegiatan siswa (ekstrakulikuler).
  2. Terbentuknya rancangan format penyebaran pengetahuan film di sekolah dengan berbagai alternatif yang disesuaikan dengan karakteristik dan permasalahan di setiap daerah.
  3. Terbentuknya rancangan kerjasama antar komunitas dan para aktivisnya dalam lingkungan satu kota yang sama untuk membuat strategi bersama agar program penyebaran pengetahuan dan pemanfaatan film di sekolah tercapai.
  4. Terbentuknya rancangan pemanfaatan jaringan komunitas (baik strategi maupun mekanisme pelaksanaannya) untuk mendukung program penyebaran pengetahuan dan pemanfaatan film di sekolah.

Panel :  “Pendidikan film secara informal berbasis komunitas”

Umumnya, komunitas film telah memiliki program pendidikan informal dengan metode dan bentuk yang beragam. Dari diskusi film, workshop produksi hingga kelas penulisan kritik film. Namun, melihat hasil yang telah dicapai selama lebih dari lima tahun terakhir, kita membutuhkan adanya sinkronisasi, strategi, struktur dan kurikulum dalam format pendidikan informal berbasis komunitas film yang menjadi program bersama. Tentu saja, rencana tersebut membutuhkan hal-hal lain seperti infrastruktur yang seharusnya bisa diatasi bersama dengan mekanisme kerja jaringan.

Gagasan utama pembahasan:

  • Pentingnya struktur dan kurikulum bersama kegiatan pendidikan film secara informal berbasis komunitas.
  • Perlunya jaringan pendidikan film informal yang terintegrasi dengan program-program kegiatan film lainnya di setiap basis komunitas.

Target hasil pembahasan:

  1. Membuat skema pendidikan informal lewat beragam kegiatan yang bersinergi dengan program kegiatan komunitas film.
  2. Terbentuknya rancangan  struktur dan kurikulum pendidikan informal yang dapat dilakukan bersama-sama dalam jaringan komunitas film.
  3. Terbentuknya rancangan mekanisme kerja jaringan untuk menopang dan menyelaraskan pelaksanaan kegiatan pendidikan film informal.

Panel:  “Penyegaran kembali jaringan komunitas film”

Gagasan utama pembahasan:

  • Pentingnya pemetaan kekuatan jaringan komunitas.
  • Perlunya strategi bersama untuk menjaga keberlangsungan hidup, peningkatan kapasitas organisasi/komunitas, dan pencapaian tujuan bersama.
  • Untuk itu, ada kebutuhan sinkronisasi visi dan misi antar komunitas dalam kerangka strategi jaringan komunitas film.
  • Strategi jejaring komunitas film bukan sebatas jaringan komunikasi tetapi memiliki pijakan pada program kerja bersama yang nyata.
  • Kerja jaringan komunitas film juga memiliki keleluasaan untuk bersinergi dengan kekuatan civil society lainnya dalam kerangka pemberdayaan masyarakat.

Target hasil pembahasan:

  1. Peta komunitas film dengan kekuatan dan kelemahan masing-masing
  2. Rancangan skema supporting system untuk keberlangsungan hidup organisasi yang disesuaikan dengan strategi pencapaian tujuan bersama.
  3. Rancangan kerja berdasarkan kebutuhan dari berbagai panel dalam kongres dalam mekanisme kerja jaringan komunitas.
  4. Tawaran kerjasama dengan berbagai unsur kekuatan civil society dan pihak-pihak lain yang memiliki visi dan misi sama dengan jaringan komunitas film.